Purwakarta, 14 September 2026 β Siswa kelas IV SDS Plus 2 Al-Muhajirin mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAIBP) dengan materi Asmaul Husna Al-Ghaffar dan Al-Wahhab. Pembelajaran tersebut dirancang untuk membantu siswa memahami makna kedua Asmaul Husna sekaligus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan pembelajaran disusun oleh Pipit Noor Afiah Fauziah, S.Pd., guru PAIBP SDS Plus 2 Al-Muhajirin, untuk siswa kelas IV/Fase B pada tahun pelajaran 2026/2027. Pembelajaran berlangsung selama 2 x 35 menit atau 2 jam pelajaran.
Dalam pembelajaran tersebut, siswa diperkenalkan dengan makna Al-Ghaffar, yaitu Allah Yang Maha Pengampun, dan Al-Wahhab, yaitu Allah Yang Maha Pemberi Karunia. Siswa diarahkan untuk memahami bahwa sifat Al-Ghaffar dapat diteladani dengan berani mengakui kesalahan, meminta maaf, serta memaafkan orang lain. Sementara itu, sifat Al-Wahhab dapat diteladani dengan bersyukur atas nikmat Allah, senang berbagi, dan membantu orang lain.
Pembelajaran dilakukan dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan model Problem Based Learning. Guru menggunakan berbagai metode, seperti diskusi, tanya jawab, Flipped Classroom, permainan, serta sosiodrama. Media yang digunakan antara lain video pembelajaran, PowerPoint interaktif, Wordwall, LKPD, laptop, proyektor, dan papan tulis.
Pada awal kegiatan, guru membuka pembelajaran dengan salam, presensi, dan doa. Siswa kemudian mengikuti kegiatan motivasi melalui ice breaking. Guru juga memberikan pertanyaan pemantik mengenai pengalaman siswa ketika melakukan kesalahan, meminta maaf, berbagi, serta mensyukuri nikmat Allah. Kegiatan tersebut bertujuan menghubungkan materi pembelajaran dengan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Memasuki kegiatan inti, guru menampilkan gambar dan video mengenai keteladanan Asmaul Husna Al-Ghaffar dan Al-Wahhab. Setelah itu, siswa dibagi menjadi lima kelompok dan mendapatkan LKPD untuk dikerjakan bersama. Setiap kelompok melakukan diskusi dan penyelidikan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, sementara guru berkeliling memberikan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan.
Menariknya, hasil diskusi tidak hanya disampaikan melalui presentasi biasa. Setiap kelompok diminta menampilkan sosiodrama di depan kelas untuk menggambarkan perilaku yang mencerminkan keteladanan Al-Ghaffar dan Al-Wahhab. Kelompok lain diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan sehingga siswa belajar menghargai pendapat dan bekerja sama dengan teman.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mengetahui arti Asmaul Husna, tetapi juga mampu menerapkannya. Nilai yang ditekankan antara lain sikap pemaaf, dermawan, mau mengakui kesalahan, meminta maaf, memaafkan, bersyukur, dan senang berbagi. Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk menjelaskan arti Al-Ghaffar dan Al-Wahhab serta meneladani sifat terpuji yang terkandung di dalamnya.
Di akhir pembelajaran, guru melakukan post-test dan tanya jawab untuk mengetahui ketercapaian hasil belajar. Siswa kemudian membuat kesimpulan dan melakukan refleksi mengenai hal yang telah dipelajari, kesulitan yang dihadapi, serta tindakan yang akan dilakukan setelah pembelajaran.
Pembelajaran ini diharapkan dapat membantu siswa menerapkan nilai-nilai Asmaul Husna dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah. Dalam materi pembelajaran disebutkan bahwa ketika melakukan kesalahan kepada orang tua atau saudara, siswa perlu segera meminta maaf dan berusaha memperbaikinya. Sementara ketika memperoleh makanan, pakaian, kesehatan, dan kasih sayang keluarga, siswa diajarkan untuk bersyukur kepada Allah sebagai bentuk keteladanan terhadap Al-Wahhab.